DIULAS.com

REKOMENDASI

Prediksi Umur dan Resiko Kematian Melalui Hal ini

  • Reporter:
  • Rabu, 11 Januari 2017 | 18:07
  • / 12 Rabiul Akhir 1438
  • Dibaca : 10 kali
Prediksi Umur dan Resiko Kematian Melalui Hal ini
Medical team

DIULAS.com – Usia jodoh dan rejeki merpukan takdir manusia yang telah ditetapkan Tuhan. Akan tetapi menjaga dan merawat tubuh merupakan kewajiban setiap manusia.

Kecanggihan teknologi memberikan gambaran kondisi kesehatan manusia melaluli berbagai hal yaitu,

1. Tes Jangka Waktu Hidup

Melalui tes darah sederhana, jangka waktu hidup Anda bisa diprediksi. Demikian hasil penelitian para ilmuwan di Boston University.

Zat kimia di dalam darah, biomarker, bisa membantu memprediksi berapa baik proses menua seseorang serta risiko mengembangkan penyakit terkait usia, termasuk kanker dan sakit jantung.

Peneliti di Boston University menggunakan data biomarker yang berhasil dikumpulkan dari 5.000 orang. Mereka kemudian membandingkannya dengan kondisi kesehatan para relawan, melihat kondisi yang mereka kembangkan selama periode delapan tahun.

Para peneliti menemukan 26 marker/penanda berbeda yang bisa memprediksi kesehatan serta kondisi tidak sehat para partisipan di masa depan. Hal itu termasuk biomarker yang menunjukkan risiko penyakit jantung, kanker, stroke, serta diabetes tipe 2 seseorang.

Penelitian ini memungkinkan seseorang bisa mengidentifikasi risiko penyakit sejak dini dan melakukan perubahan gaya hidup yang diperlukan agar lebih panjang umur.

Menurut penulis utama penelitian, Profesor Paola Sebastiani, temuan tersebut bisa membantu penelitian berikutnya mengenai pengobatan penyakit terkait usia. Tes darah ini bisa digunakan sebagai tes klinis dan tak perlu menunggu bertahun-tahun untuk mengetahui hasilnya.

Dokter Thomas Perls dari fakultas kedokteran universitas tersebut juga terlibat memimpin penelitian. Dia menambahkan, “Sekarang kita bisa mendeteksi dan mengukur ribuan biomarker dari sejumlah kecil darah. Idenya adalah untuk bisa memprediksi siapa yang berisiko terhadap beragam jenis penyakit, jauh sebelum ada tanda klinis yang muncul.”

2. Tes Resiko Penyakit Jantung

Ukuran lengan kita ternyata bisa digunakan untuk memprediksi apakah kita akan bertahan atau tidak dari penyakit jantung.

Menurut studi terbaru yang dimuat dalam American Journal of Cardiology, ada kaitan erat antara lingkar lengan atas dengan penyakit jantung. Mereka yang ukurannya lebih besar karena massa ototnya terjaga, mampu bertahan terhadap penyakit jantung.

Para peneliti melakukan pengukuran 600 orang lanjut usia di bagian pertengahan lengan atas dan lingkar betis, dua perhitungan yang membantu menentukan massa otot, dan mempelajari fungsi otot pasien melalui kecepatan dan kekuatan pegangan.

Dalam durasi penelitian sekitar 1,5 tahun, sekitar 72 orang yang semuanya berusia 65 tahun meninggal, tetapi responden yang memiliki ukuran lingkar lengan yang lebih besar memiliki usia harapan hidup lebih tinggi.

Ukuran lingkar lengan atas diketahui memberikan hasil yang lebih signifikan untuk memprediksi risiko bertahan atau tidak terhadap penyakit jantung. Pengukuran ini juga bisa menjadi alat sederhana untuk menentukan risiko pada orang berusia lanjut.

Orang berusia lanjut yang memiliki lingkar lengan atas kecil bisa disebut juga dengan sarkopenia, yaitu suatu kondisi kehilangan massa otot dan kekuatan.

Sarkopenia bisa disebabkan karena sejumlah faktor, misalnya perubahan hormon, kurangnya aktivitas fisik, penyakit kronik, penurunan fungsi saraf, dan nutrisi yang buruk. Sarkopenia adalah kondisi yang berbahaya karena memicu hilangnya fungsi tubuh, kelemahan, bahkan kecacatan.

Untuk menjaga kondisi otot, melakukan olahraga rutin dan aktif bergerak sangat disarankan. Kedua hal itu juga berguna untuk menjaga berat badan tidak berlebih. Kegemukan diketahui membuat jantung bekerja lebih keras dan meningkatkan risiko tekanan darah tinggi, diabetes, serta Kolesterol tinggi.

Solusi

Untuk memperpanjang usia, analisis terbaru terhadap kebiasaan pola makan global menemukan, mengurangi hanya 200 mg gram setiap hari yang setara dengan sebungkus keripik kentang ternyata dapat mencegah ribuan kematian tak perlu.

Kendati direkomendasikan untuk membatasi hanya 2.000 mg garam sehari, kebanyakan dari kita mengonsumsi dua kali lipat dari rekomendasi itu. Hasilnya, kasus penyakit jantung meningkat.

Periset dari Tuft University, Boston percaya bahwa mengurangi asupan garam sampai 400 mg bahkan dapat menyelamatkan uang 3 milyar dolar untuk biaya perawatan kesehatan.

Di seluruh dunia diperkirakan terdapat 1,6 juta kematian setiap tahun karena penyakit jantung. Para peneliti mengklaim membatasi asupan garam merupakan cara yang lebih efektif secara biaya daripada menggunakan obat-obatan.

Untuk sampai pada kesimpulan ini, sebuah tim peneliti berbasis di AS dan Inggris mengukur keefektifan regulasi pengurangan garam sampai 10 persen lebih dari 10 tahun pada 183 negara.

"Like" dan dapatkan berita terbaru dari kami


Pertama, mereka mengestimasi jumlah jumlah DALY (disability-adjusted life years atau tahun kehidupan yang disesuaikan dengan kecacatan – ukuran tahun yang hilang karena sakit) yang harus diatasi dengan kebijaksanaan di setiap negara.

Mereka menemukan, sebuah kebijakan global dapat menyelamatkan kurang lebih 5,8 juta DALY setiap tahun – khususnya melalui pengurangan drastis jumlah orang yang terkena penyakit jantung.

Mereka kemudian menentukan berapa banyak garam yang dikurangi yang bakal menyelamatkan uang atau biaya suatu negara. Akhirnya mereka menemukan intervensi satu dekade dapat menyelamatkan 1,12 dolar per orang, mengubah biaya menjadi dolar internasional, setara kemampuan daya beli negara tersebut terhadap mata uang dolar.

Peneliti Dariush Mozaffarian, seorang profesor gizi dari Tufts University Boston mengatakan,”Kami tahu kelebihan garam menyebabkan ratusan ribu kematian penyakit jantung dan pembuluh darah setiap tahun. Pertanyaannya, bagaimana memulai mengurangi garam dan berapa banyak biaya yang dikeluarkan untuk usaha itu.”

“Hasil penelitian kami bersama studi-studi sebelumnya di negara-negara terpilih memberikan bukti bahwa kebijakan nasional pengurangan asupan garam sangat efektif dari segi biaya dan pada dasarnya merupakan strategi pencegahan penyakit yang sangat berbiaya efektif,” tambahnya.

WHO mengatakan kadar garam tinggi meningkatkan tekanan darah dan membuat penderitanya berisiko tinggi terkena penyakit jantung dan stroke.

Kelebihan konsumsi garam pun diketahui menyebabkan gagal ginjal dan kanker perut.

sumber : liputan6.com, kompas.com

Baca Lebih Lengkap di Halaman Selanjutnya:

Tambah wawasan yuk, baca artikel Selanjutnya:

loading...

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional